Pada konsep tradisional, IQ adalah segala-galanya. IQ yang tinggi identik dengan Sukses dan IQ yang rendah sudah pasti dicap gagal. Tingkat kecerdasaan merupakan faktor bawaan yang sudah ditentukan sejak lahir. Karena itu, siapapun tidak dapat mengubah apalagi meningkatkan kadar inteligensi seseorang.
Namun seiring dengan perkembangan pendidikan, konsep tersebut mulai tergeser oleh hasil penelitian yang secara intens mempelajari cara meningkatkan kecerdasan seseorang. Selain itu dari hasil penelitian juga menghasilkan bahwa bahwa kesuksesan seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh IQ semata, melainkan juga tingkat kecerdasan lain seperti EQ dan SQ.
Apa itu IQ, EQ dan SQ ?
- IQ ( Kecerdasan Intelektual ) ditemukan di Paris Perancis pada tahun 1905 oleh Binet. Posisinya pada fungsi otak luar atau Neocortex.
- EQ ( Kecerdasan Emosi ) ditemukan pada tahun 1995 oleh Daniel Goleman, berada pada fungsi otak Limbic System.
- SQ ( Kecerdasan Spiritual ) ditemukan pada tahun 2000 oleh VS Ramachandran, berada pada fungsi syaraf otak yang disebut God Spot.
Sudah cukupkah seseorang memiliki Kecerdasan Intelektual (IQ) yang tinggi ?
Seringkali pada anak-anak dengan IQ superior harusnya mempunyai prestasi yang tinggi, tetapi pada kenyataannya IQ tinggi tapi prestasi tidak optimal. Harusnya IQ yang tinggi prestasinya juga optimal. Disinilah EQ berperan, untuk itu ada suatu kesimpulan bahwa IQ tidak bisa meramalkan kesuksesan seseorang.
Contoh lain misalnya orang yang memiliki kecerdasan otak saja dan memiliki gelar tinggi belum tentu sukses di dunia kerja.
Kebanyakan dari program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal (IQ), padahal diperlukan pula kecerdasan Emosi seperti ketangguhan, inisiatif, kreativitas, motivasi, optimis, kemampuan beradaptasi dan kerjasama tim.
Selain Kecerdasan Emosi, yang lebih penting lagi adalah kecerdasan Spiritual yang berbicara mengenai keikhlas dalam aktivitas sehari-hari, hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta sehingga mengerti arti / maknanya hidup.
Apa itu Kecerdasan Emosional ?
Menurut Daniel Goldman, Kecerdasan Emosi adalah :
- Kemampuan untuk mengenali Emosi Diri Sendiri
Mengenali Emosi diri berarti mewaspadai terhadap pikiran tentang suasana hati sendiri, artinya Setiap individu harus memosisikan diri sebagai pengontrol emosi, bukan dikontrol oleh emosi.Jangan hanya mengajarkan kecerdasan akademis (IQ) saja pada anak, tapi juga mengenali emosi untuk bisa mengatasi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup / belajar antara lain Kesulitan belajar akan Matematika, Tantangan Ujian Sekolah, Bagaimana rasa bahagia jika mendapat nilai yang baik, Sukses dalam suatu kompetisi atau bagaimana rasanya kalah atau gagal dalam suatu kompetisi, dll.
Jika Pemahaman akan Emosi Diri telah berjalan dengan baik, maka Anak/Siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih siap terhadap tekanan lingkugan di sekitarnya, bertanggung jawab apa yang terjadi dalam hidupnya, misalnya Kalau mendapat nilai jelek, bukan karena guru tetapi karena diri sendiri. Dengan pemikiran ini membuat setiap siswa secara sadar mengambil kemudi atas hidupnya sendiri serta tidak melampiaskan tekanan-tekanan dengan hal-hal yang negative seperti Narkoba.
- Mengelola dan Mengekspresikan Emosi diri dengan Tepat
Ketika seseorang mampu mengelola dan mengekspresikan emosi, maka keuntungannya akan mampu lebih cepat menguasai perasaan, dan kembali membangkitkan kehidupan emosi yang normal.Misalnya Jika seseorang siswa gagal dalam suatu ujian, katakanlah Tes Masuk Perguruan Tinggi Favorit yang ingin dituju, maka jika siswa tersebut cepat menguasai perasaan, maka akan cepat pula bangkit dalam perasaan normal. Hal ini akan lebih baik, karena siswa tersebut akan lebih optimis dalam melanjutkan studi selanjutnya ke universitas yang lain dan tidak terpuruk dengan kegagalan yang dialami.
Setiap orang pasti pernah menjumpai kegagalan, Hanya saja orang-orang yang sukses selalu menggunakan kegagalan itu sebagai umpan balik atas apa yang sedang dilakukan.
- Memotivasi Diri Sendiri
Diharapkan dapat memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam suatu penelitian pada anak-anak, yang mampu mengendalikan diri atau bersabar untuk mencapai hasil yang lebih besar, terdapat korelasi dengan kesuksesan anak-anak tersebut di masa depan. Tidak mudah hancur, tidak mudah mengeluh, lebih bahagia, lebih mudah berhubungan dengan orang lain dan dalam hal pekerjaan pun lebih lebih berprestasi dan lebih cakap. - Mengenali Emosi Orang lain
Bisa berempati, bisa merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa harus terhanyut. Ini merupakan hal mendasar dan cukup penting, ketika ingin membangun kehidupan bersosial, bertetangga atau berorganisasi.Dengan demikian hubungan tetap berlangsung hangat dengan orang lain, lebih peka dan lebih bisa menyesuaikan diri.
- Membina hubungan dengan orang lain
Jangan takut untuk berbeda, berbeda itu tidak selamanya buruk. Jangan selalu berkorban / mengalah untuk keperntingan orang lain atau mengorbankan prinsip untuk menyenangkan orang lain, misalnya ikut-ikutan merokok, minum-minum dan sebagainya.Ajarkan pada anak tentang kejujuran. Utamakan ketulusan, kejujuran pada perasaan diri sendiri dan pentingnya menghadirkan prinsip menjadi diri sendiri.
Kesimpulan:
Jangan terpaku pada satu kecerdasan akademik (IQ) saja, tetapi kembangkanlah diri setiap anak dengan berbagai kecerdasan lainnya seperti Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual untuk membangun manusia yang sukses, bahagia baik secara horizontal ( antar sesama manusia ) maupun secara vertikal ( Sang Pencipta ).
Jangan terpaku pada sesuatu hal, sebab banyak hal yang selalu berubah. Mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan hal-hal yang baru akan tertinggal.












